PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bergerak mencari solusi atas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan pemadaman listrik bergiliran yang dikeluhkan masyarakat.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menggelar rapat koordinasi bersama jajaran Pertamina dan PT PLN (Persero) di ruang kerjanya, Rabu (21/10/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri Manager Pertamina Kalimantan Barat, General Manager PLN Wilayah Kalimantan Barat Maria Goreti, Kepala Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Barat, Penjabat Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, serta Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Barat.
Rapat ini difokuskan pada upaya mengatasi kendala pasokan dan distribusi BBM bersubsidi, terutama di wilayah hulu dan pesisir, sekaligus membahas persoalan pemadaman listrik bergiliran yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Ria Norsan menegaskan, pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi dengan pihak terkait agar persoalan energi yang dihadapi masyarakat dapat segera ditangani.
“Semua akan kita upayakan untuk masyarakat agar tidak sulitlah untuk mencari minyak subsidi,” ungkap Ria Norsan.
Ia menyampaikan, Pemprov Kalbar akan terus mendorong koordinasi dan pengawasan bersama instansi terkait serta badan usaha milik negara (BUMN). Langkah tersebut diharapkan mampu memperlancar distribusi energi dan mengurangi dampak gangguan pasokan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pemerintah juga mengharapkan adanya langkah penanganan yang terukur, baik dalam menjaga ketersediaan BBM bersubsidi maupun meminimalkan dampak pemadaman listrik.
Dalam rapat tersebut, Pertamina menjelaskan sejumlah kendala yang memengaruhi penyaluran BBM ke wilayah hulu Kalimantan Barat. Daerah seperti Sintang, Putussibau, Melawi, Landak, dan sekitarnya menghadapi tantangan distribusi akibat kondisi geografis serta perubahan debit air Sungai Kapuas.
GM Pertamina Kalimantan Barat menjelaskan, pengiriman BBM melalui jalur sungai sempat terganggu akibat kondisi air yang surut. Situasi tersebut berdampak pada pasokan menuju depot Sintang karena kapal pengangkut mengalami kendala dalam perjalanan.
“Perlu kami sampaikan bahwa depot di Sintang sempat terkendala pasokan menggunakan kapal akibat surutnya air sungai. Sebagai solusi taktis, Pertamina kini mengoptimalkan pasokan yang disalurkan melalui Terminal BBM Pontianak,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina mengoptimalkan penyaluran BBM dari Terminal BBM Pontianak dan menambah sekitar 27 unit mobil tangki untuk memperkuat distribusi melalui jalur darat.
Selain penambahan armada, Pertamina juga menyiapkan sejumlah area istirahat khusus bagi awak kendaraan pengangkut BBM. Fasilitas tersebut diharapkan membantu menjaga kondisi pengemudi selama menempuh perjalanan panjang menuju wilayah tujuan.
Dengan penguatan armada dan optimalisasi jalur distribusi tersebut, penyaluran BBM diharapkan semakin lancar, terutama untuk daerah yang memiliki jarak tempuh cukup jauh dari Pontianak.
Sementara itu, pembahasan bersama PLN menjadi bagian dari upaya pemerintah provinsi mencari solusi atas pemadaman listrik bergiliran yang turut mengganggu kegiatan masyarakat.
Pemprov Kalbar berharap koordinasi lintas sektor ini menghasilkan langkah konkret sehingga ketersediaan energi semakin terjaga dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik.(Ara)

