KETAPANG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil menyelamatkan seekor bayi orangutan betina yang ditemukan tanpa induk di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kamis (22/01/2026).
Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu pertama kali terlihat warga selama beberapa hari berada sendirian di area perkebunan. Warga melaporkan kondisi tersebut karena tidak melihat keberadaan induknya di sekitar lokasi. Menindaklanjuti laporan itu, tim gabungan melakukan verifikasi lapangan dan memastikan Jani memang sendirian, dengan pergerakan terbatas dan tampak kebingungan menunggu induknya.
Tim sempat melakukan pencarian induk orangutan di sekitar kebun, namun tidak membuahkan hasil. Demi menghindari potensi konflik dengan warga serta menjaga keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi hingga tim penyelamat tiba.
Setelah dilakukan observasi langsung, penyelamatan diputuskan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Keputusan ini diambil karena usia Jani yang masih sangat muda, sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko. Penanganan dilakukan secara manual oleh dokter hewan dan animal keeper berpengalaman.
“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” ujar dokter hewan YIARI, drh. Komara.
Menurutnya, penanganan manual merupakan pilihan paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.
Proses evakuasi berjalan lancar. Jani kemudian dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan awal memperkirakan usia Jani sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih hidup bersama induknya.
“Di alam liar, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup. Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko,” tambah drh. Komara.
Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan sambil menunggu kondisi stresnya stabil.
Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyebut kasus ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya akibat lanskap yang terfragmentasi. Ia mengapresiasi respons cepat masyarakat, mitra lapangan, BKSDA, dan tim YIARI. Ke depan, pihaknya bersama BKSDA Kalimantan Barat akan memantau kondisi Jani serta melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan penyebab terpisahnya dari induk.
“Tim juga diterjunkan untuk memantau area sekitar perkebunan guna mencari keberadaan induknya. Jika induk ditemukan, akan diupayakan pengembalian bayi orangutan ini ke induknya dan pemindahan ke lokasi yang lebih aman. Namun jika tidak, Jani akan menjalani rehabilitasi hingga siap dilepasliarkan ke habitat yang layak,” jelasnya.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelamatan tersebut. Menurutnya, kondisi Jani merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan.
“Salah satu hal penting yang harus kita tingkatkan bersama adalah edukasi dan penyadartahuan kepada semua pihak untuk menjaga keanekaragaman hayati, khususnya orangutan dan habitatnya, serta satwa liar lainnya,” ujarnya.
