FILIPINA –  Pemerintah Filipina menyatakan status keadaan darurat energi nasional menyusul eskalasi yang terjadi di Timur Tengah sejak 28 Februari lalu.

Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr mengumumkan untuk mengeluarkan deklarasi darurat energi nasional di negaranya. Harga diesel di Filipina melonjak tajam hingga dua kali lipat, menembus angka 120 peso atau Rp33.803 per liter. Sektor transportasi dan ekonomi menjadi terdampak paling terasa di negara ini.

Departemen energi Filipina menyebutkan jika cadangan bahan bakar domestik hanya cukup 53 hari kedepan. Akhirnya setelah lima tahun Filipina akhirnya kembali membuka keran impor energi dari negara Rusia. Selain itu Filipina juga mencari sumber alternatif energi dari China dan negara Asia Tenggara lainnya.

Dampak perang Amerika Serikat, Israel dan Iran membawa dampak besar terhadap krisi energi global. Selat Hormus yang ditutup Iran membuat pasokan BBM ke berbagai negara di sejumlah negara menjadi terganggu. (dd)