PONTIANAK – Memperingati Hari Guru Nasional, Kepala SMA Negeri 7 Pontianak Ibrahim Buchari menyampaikan pesan mendalam mengenai peran strategis guru serta tantangan dunia pendidikan saat ini.
Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa guru tetap menjadi fondasi utama pembentukan karakter generasi muda, meski teknologi berkembang dengan cepat.
Menurut Ibrahim, peran guru di era sekarang jauh melampaui tugas tak hanya mengajar di ruang kelas.
“Hari ini peran guru bukan sekadar mengajar, tetapi menjadi cahaya yang menuntun generasi agar tetap berkarakter di tengah derasnya perubahan zaman. Teknologi boleh membantu, namun kehangatan hati guru tetap menjadi pusat pendidikan,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Ia menilai bahwa kualitas terpenting yang harus dimiliki guru masa kini adalah ketulusan. Guru yang tulus bukan hanya menyampaikan ilmu, melainkan juga membangunkan jiwa dan membimbing dengan kasih sayang.
“Guru yang tulus menjadi teladan bahkan ketika tidak ada yang melihat,” tambahnya.
Di tengah maraknya isu yang mencoreng institusi pendidikan, Ibrahim mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pengabdian besar para guru.
“Pendidikan tidak pernah lepas dari cobaan, namun jangan satu kesalahan membuat kita melupakan lautan kebaikan para guru yang setiap hari berjuang dalam diam. Mari melihat dengan jernih, mendukung perbaikan, dan tidak menghukum mereka yang bekerja dengan sepenuh hati.” ungkapnya.
Kepada seluruh murid, ia berpesan agar menjunjung tinggi rasa hormat kepada guru, karena dari merekalah masa depan dibangun.
“Hormatilah gurumu sebagaimana kamu berharap kelak dihormati. Jadikan nasihat guru sebagai tangga masa depan karena tidak ada keberhasilan besar yang lahir tanpa doa dan bimbingan seorang guru.” tuturnya.
Ibrahim juga menyampaikan harapannya agar dunia pendidikan ke depan menjadi ruang yang lebih manusiawi dan membahagiakan.
“Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya karakter, bukan sekadar tempat mengejar nilai.”
Pesannya untuk Para Guru.
tak hanya itu, ia mengajak para guru untuk tetap menjaga semangat pengabdian tanpa mengharapkan pujian.
“Tetaplah menjadi pelita walau kadang tidak terlihat cahayanya, karena pelita tidak pernah meminta tepuk tangan. Mengajar adalah ibadah, mendidik adalah warisan abadi, dan setiap kebaikan guru akan kembali sebagai cahaya bagi kehidupan bangsa.” pungkasnya.
