PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mampu melahirkan generasi santri berdaya saing, berkarakter, melek teknologi, dan mandiri secara ekonomi.

Komitmen tersebut disampaikan Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Hendra, S.Sos., saat menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar, Pontianak.

Mengusung tema “Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan Hari Santri tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi santri dalam menjawab tantangan zaman sekaligus mendukung pembangunan daerah dan nasional.

Dalam amanatnya, Hendra menekankan bahwa santri memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Kontribusi tersebut tidak hanya tercermin dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga perlu dilanjutkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta penguatan karakter generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menjadi salah satu tonggak sejarah yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Menurutnya, semangat perjuangan tersebut harus diteruskan oleh santri masa kini melalui prestasi, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Jika dahulu para santri berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan semangat jihad dan pengorbanan, maka saat ini perjuangan dilanjutkan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, serta karya nyata,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).

Hendra menyampaikan, perkembangan zaman menuntut pesantren untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi pendidikannya. Santri diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam berbagai sektor pembangunan.

Ia menilai, santri memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan, baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

“Santri harus mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan bangsa. Ilmu agama menjadi landasan akhlak, sementara ilmu pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan menjadi bekal.(Ara)