PONTIANAK – Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Kalimantan Barat kembali turun ke jalan dalam aksi bertajuk “Delapan Tuntutan, Satu Tujuan: Kalbar Menggugat” yang digelar di Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat.

Aksi yang dimotori oleh gabungan aliansi mahasiswa se-Kalbar ini dimulai dari halaman Universitas Muhammadiyah Pontianak sekitar pukul 15.00 WIB. Massa kemudian bergerak long march menuju kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat sambil menyuarakan aspirasi melalui orasi dan membentangkan berbagai spanduk tuntutan.

Aliansi yang terlibat dalam aksi ini antara lain ALIANSI KALBAR MENGGUGAT, FKBK Kalbar, FOMDA Kalbar, BEM SI Kalbar, BEM NUS Kalbar, BEM SEKA Kalbar, FKMPI, BEM PTMAI Zona II, AMAN Kalbar, serta perwakilan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Setibanya di lokasi, perwakilan mahasiswa diterima oleh pimpinan DPRD dan diberikan kesempatan menyampaikan aspirasi di ruang paripurna. Dalam forum tersebut, mahasiswa memaparkan delapan poin tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Salah satu orator aksi, Syariful Hidayatullah, menegaskan bahwa mahasiswa mendesak evaluasi menyeluruh terhadap Program MBG, termasuk mendorong audit investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia terhadap kinerja Satgas MBG.

Selain itu, mahasiswa juga menuntut reformasi Polri, peningkatan kesejahteraan guru, penguatan sektor pendidikan dan kesehatan, percepatan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar, hingga percepatan skema wilayah pertambangan rakyat.

Menurutnya, tuntutan tersebut lahir dari keresahan masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum berpihak secara optimal pada rakyat.

“Ini bukan sekadar aksi simbolik. Kami ingin ada komitmen nyata dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Di tengah rangkaian kegiatan, peserta aksi juga menggelar doa bersama untuk mengenang almarhum Aryanto Tawakal dan Johnson Marhasak, serta menyanyikan lagu perjuangan sebagai bentuk solidaritas dan penguatan semangat gerakan.

Mahasiswa menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal isu-isu tersebut hingga ada respons konkret dari pemangku kebijakan. Jika tuntutan tidak ditindaklanjuti, mereka membuka kemungkinan untuk menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar.

Aksi berlangsung dalam pengawalan aparat keamanan dan berjalan tertib hingga massa membubarkan diri pada sore hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *