PONTIANAK – Sejumlah akademisi di Pontianak, Kalimantan Barat, menilai pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka berhasil melanjutkan agenda besar pembangunan energi nasional, termasuk perluasan akses energi hingga ke wilayah pelosok dan pedesaan. Rencana peresmian proyek RDMP Balikpapan pada Desember 2025 disebut menjadi bukti konkret keberlanjutan tersebut.
Pakar Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan), Meiran Panggabean, menyebut pembangunan dan penguatan infrastruktur energi baik di pusat maupun daerah menjadi fondasi penting menuju kemandirian energi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita.
“Kilang Balikpapan adalah karya bangsa yang dampaknya terasa sampai desa. Semakin kuat kilang nasional, semakin stabil suplai energi ke masyarakat, termasuk daerah terpencil,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Meiran menjelaskan RDMP Balikpapan diproyeksikan menopang 25 persen kebutuhan BBM nasional dan membantu menurunkan defisit impor. Dengan pasokan lebih kuat, distribusi bahan bakar ke desa dan wilayah 3T akan lebih terjamin.
“Ketahanan energi nasional tidak hanya soal kota besar. Stabilitas suplai ke desa itu sangat krusial. Proyek ini mendukung itu semua,” katanya.
Sementara itu, Pakar kebijakan publik Untan, Dr. Erdi juga menilai bahwa keberlanjutan pembangunan energi era sebelumnya terutama yang melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi telah diteruskan dengan baik oleh kabinet Prabowo Gibran. Ia menyoroti kinerja Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang dinilai menonjol dalam memastikan perluasan jaringan energi ke wilayah pedesaan tetap menjadi prioritas.
“Presiden Prabowo melihat kinerja, bukan asal-usul politik. Bahlil telah menunjukkan kemampuan mendorong percepatan infrastruktur energi yang dampaknya sampai ke level desa,” ujar Erdi.
Ia menyebut pembangunan kilang dan proyek energi berskala besar akan memperkuat pasokan nasional, sehingga kebijakan elektrifikasi desa, distribusi BBM satu harga, hingga energi bersih di pedesaan bisa berjalan lebih stabil.
Pakar energi Untan, Kiki Priyo Utomo, menilai target produksi solar dan avtur dari RDMP Balikpapan realistis karena didukung studi kelayakan yang kuat. Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi ini sangat berpengaruh pada pemerataan pasokan energi ke desa.
“Jika kilang besar beroperasi optimal, rantai distribusi sampai desa menjadi lebih efisien. B50 juga membantu membuat solar semakin bersih dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dengan kapasitas 360 ribu barel per hari, RDMP Balikpapan menjadi kilang terbesar di Indonesia. Kilang ini meningkatkan kemampuan produksi BBM nasional menjadi 53,9 juta liter per hari.
Peningkatan kapasitas ini diproyeksikan memperkuat suplai energi hingga ke pedalaman Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan wilayah yang selama ini rentan mengalami fluktuasi pasokan.
“Jika energi kuat dari hulu, desa yang paling ujung sekalipun akan mendapatkan efeknya,” tutup Kiki.
