PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan kapasitas 200 hingga 300 ton per hari. Fasilitas ini direncanakan untuk membantu mengatasi persoalan sampah di Kota Pontianak yang produksinya mencapai 450 hingga 500 ton setiap hari.

Selain pembangunan TPST, Pemkot Pontianak juga menjajaki kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan taman kota.

Edi mengatakan, komposisi sampah di Pontianak didominasi sampah organik sekitar 76 persen, sedangkan sampah plastik mencapai 17,3 persen. Kondisi ini dinilai menjadi peluang untuk mengembangkan pengelolaan sampah melalui pemilahan dan pemanfaatan kembali.

“Ke depan, kita akan membangun pusat pengelolaan sampah terpadu yang kapasitasnya bisa mencapai 200 hingga 300 ton per hari. Kita juga sudah menjajaki kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk taman-taman kota,” ujarnya, Senin (22/10/2026).

Menurut Edi, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pengolahan, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat. Ia mengajak warga mulai memilah sampah dari rumah, memanfaatkan bank sampah mini di sekolah, serta membuang sampah sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku.

“Kegiatan WCD ini jangan hanya sekadar seremoni. Ini harus menjadi momentum untuk mengubah kebiasaan. Membuang sampah sembarangan tidak boleh lagi ada di Pontianak. Kalau ada warga yang punya ide cemerlang soal sampah, silakan sampaikan langsung kepada saya. Saya sangat serius menangani ini,” tegasnya.

Selain persoalan sampah, Edi turut menegaskan komitmen Pemkot Pontianak dalam memperluas ruang terbuka hijau dan menata trotoar agar semakin nyaman digunakan masyarakat. Penataan tersebut tidak hanya menyasar Jalan Ahmad Yani, tetapi juga kawasan lain, termasuk Pontianak Utara.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana WCD Pontianak 2026, Vivi Norvika, mengatakan sekitar 300 relawan dari berbagai kalangan mengikuti kegiatan yang mengusung tema “Aksi Bersih Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah”.

Para relawan yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan aparatur pemerintah melaksanakan aksi bersih-bersih di kawasan Jalan Daya Nasional serta menebar ekoenzim di Jalan Media. Taman Digulis dan sekitarnya dipilih karena menjadi salah satu ruang publik untuk aktivitas olahraga dan edukasi masyarakat.

Vivi menjelaskan, kegiatan ini juga mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup minim sampah. Para peserta diwajibkan membawa botol minum pribadi serta memilah sampah hasil kegiatan ke dalam tiga kategori, yakni organik, anorganik yang bernilai daur ulang, dan residu.

Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang dan dicatat oleh Bank Sampah Rosela Purnama dan Bank Sampah Untan. Data tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian dari kontribusi Pontianak dalam pelaksanaan WCD tingkat nasional.(Ara)