KETAPANG — Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan turun langsung melihat kondisi terkini pembangunan Jalan Ketapang–Pesaguan saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Ketapang. Ruas strategis tersebut menjadi jalur vital bagi masyarakat pesisir selatan yang bergantung pada akses darat untuk aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dalam peninjauan tersebut, Norsan menjelaskan bahwa progres pengerjaan jalan telah mencapai sekitar 50 persen. Pemerintah Provinsi Kalbar mengalokasikan dana sebesar Rp 16 miliar untuk tahun ini, dengan fokus utama pada penanganan kerusakan berat dan pemeliharaan dasar.
“Pekerjaan masih berjalan. Yang penting, masyarakat bisa kembali melintas dengan lebih aman,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Menurut Norsan, meski anggaran tidak besar, pemerintah tetap mengedepankan perbaikan bertahap agar mobilitas warga tidak terhambat. Lubang-lubang besar diperbaiki lebih dulu sebelum pengerjaan penghalusan dan pengaspalan dilaksanakan.
Ia menegaskan bahwa penataan ulang jalan di Ketapang tidak akan berhenti pada 2025. Pemprov Kalbar telah menyiapkan program lanjutan untuk dua tahun mendatang guna memperbaiki sejumlah ruas lain yang masuk kategori rusak parah.
“Wilayah Ketapang tetap menjadi prioritas. Tahun depan dan berikutnya, pembenahan masih kita lanjutkan,” katanya.
Selain itu, Norsan menargetkan peningkatan kondisi jalan mantap di Kalbar hingga mencapai 80 persen dalam lima tahun ke depan. Meski demikian, dia menekankan bahwa target tersebut akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
“Kalau pun tidak mencapai 80 persen, kita pastikan progresnya tetap signifikan,” tambahnya.
Gubernur juga menegaskan bahwa perhatian Pemprov tidak hanya tertuju pada Ketapang. Ruas-ruas lain di kabupaten berbeda yang mengalami kerusakan berat akan tetap ditangani sesuai prioritas.
Ia menilai pembangunan jalan desa dan antarkecamatan merupakan kunci dalam mempercepat pemerataan pembangunan, memperkuat konektivitas ekonomi, dan meningkatkan akses warga terhadap layanan publik dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
“Perbaikan jalan bukan hanya soal mobilitas. Dampaknya langsung terasa pada hasil pertanian, distribusi barang, dan perkembangan desa,” tegas Norsan.
