PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengajak seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkatprovinsi maupun kabupaten/kota meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi gejolak harga pada Semester II Tahun 2026.

Ria Norsan menyampaikan bahwa capaian inflasi Kalimantan Barat yang masih berada dalam rentang sasaran nasionalpatut diapresiasi. Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan (year-on-year) Kalimantan Barat tercatat sebesar 2,24 persen, masih berada dalam target nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Meski demikian, menurutnya kondisi tersebuttidak boleh membuat seluruh pihak lengah. Ia menegaskan upaya pengendalian inflasi harusterus dilakukan secara proaktif agar masyarakattetap memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

“Jangan sampai kita merasa aman hanya karena angka inflasi masih terkendali. Yang terpenting adalah masyarakat tetap mendapatkan pangan yang tersedia, harga yang terjangkau, serta distribusi yang berjalan lancar,” ujar Gubernur Ria Norsan saat memimpin High Level Meeting (HLM) Pengendalian Inflasi di Aula Kriang Bandong, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (23/7/2026).

Ia juga menyoroti adanya perbedaan kondisi inflasi di setiap daerah. Kabupaten Sintang saat ini menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggidi Kalimantan Barat sebesar 3,71 persen, sedangkan Kota Singkawang mencatat inflasi sebesar 2,13 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi pengendalian inflasi harusdisesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah melalui koordinasi yang lebih intensifantarpemerintah daerah.

Dalam kesempatan itu, Gubernur meminta seluruh TPID memperkuat implementasi strategi 4K yang meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif kepada masyarakat.

Selain itu, ia mengingatkan sejumlah potensi yangdapat memicu kenaikan harga pada semesterkedua tahun ini, di antaranya gangguan distribusi akibat cuaca, hambatan logistik, fluktuasi harga komoditas pangan seperti cabai dan bawang merah, hingga perubahan pasokan bahan bakar minyak dan gas.

Ria Norsan juga meminta Perum Bulog, PTPertamina Patra Niaga, serta seluruh instansiterkait meningkatkan koordinasi dalam menjagastok dan distribusi komoditas strategis sepertiberas, cabai, dan bawang merah.

“Jangan menunggu harga naik baru bergerak. Kita harus mampu mengantisipasi sejak awal agar masyarakat tidak terdampak. Sedia payung sebelum hujan,” tegasnya.

Ia menambahkan keberhasilan menjaga stabilitas harga membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, distributor hingga masyarakat.(Ara)