KUBU RAYA – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin melakukan kunjungan kerja ke RSUD TBSI Kubu Raya dalam rangka meninjau kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia rumah sakit dalam menangani penyakit-penyakit utama penyebab kematian di Indonesia.
“Fasilitas di sini sangat lengkap. Rumah sakit ini disiapkan untuk menangani empat penyakit utama penyebab kematian. Masyarakat tidak perlu lagi menunda pengobatan,” ujar Menkes saat sesi doorstop di Rumah Sakit TBSI Kubu Raya, Jum’at (6/2/2026).
Menkes menjelaskan, RSUD TBSI dirancang untuk menangani kasus stroke, penyakit jantung, kanker, serta penyakit kritis lainnya tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun sumber pembiayaan pasien. Rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas bedah, seperti bedah kardiotoraks dan bedah otak.
Untuk layanan jantung, Menkes menyebutkan bahwa rumah sakit telah memiliki peralatan penunjang yang memadai serta tenaga kesehatan yang cukup lengkap. Namun demikian, peningkatan kompetensi tenaga medis tetap menjadi fokus ke depan.
“Kita harapkan ke depan spesialis bedah di sini bisa dilatih untuk melakukan tindakan seperti kardiotomi, begitu juga dengan kemoterapi untuk pasien kanker. Selama ini layanan seperti itu hanya tersedia di rumah sakit besar,” jelasnya.
Sebagai solusi pemerataan layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan meluncurkan program Hospital Based Educationatau pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit melalui program yang disebut Facility. Program ini memungkinkan pendidikan dokter spesialis dilakukan langsung di rumah sakit daerah.
Perbedaan utama program ini terletak pada sistem rekrutmen. Prioritas diberikan kepada putra-putri asli daerah, tanpa dipungut biaya pendidikan, dan peserta justru akan mendapatkan gaji selama masa pendidikan.
“Kita ajukan RSUD sebagai pusat pendidikan berbasis rumah sakit. Rekrutmennya diutamakan putra-putri daerah, tidak perlu bayar kuliah, dan mereka digaji,” kata Menkes.
Program ini direncanakan mulai berjalan pada Juni mendatang di Pontianak dengan satu program spesialis terlebih dahulu, sebelum dikembangkan ke lebih banyak bidang.
Menkes berharap, dengan kebijakan ini, semakin banyak dokter spesialis berasal dari Kalimantan Barat dan menetap untuk melayani masyarakat setempat.
“Saya minta agar dokter spesialis yang direkrut benar-benar putra-putri daerah, supaya setelah selesai mereka tetap mengabdi di sini,” pungkasnya.(Ara)

