PONTIANAK – Di tengah dinginnya musim salju di Luxembourg City, sebuah negara kecil di eropa barat, Cristina Susilowati (27) menjalani kehidupannya sebagai guru sekolah dasar dengan pendapatan mencapai Rp1,6 miliar per tahun. Namun di balik angka fantastis itu, tersimpan perjuangan panjang sekaligus refleksi mendalam tentang nasib guru di Indonesia.
Cristina, perempuan asal Indonesia yang kini mengajar di sekolah dasar negeri di Luxembourg, mengaku perjalanannya menuju profesi tersebut tidak mudah. Ia harus menguasai tiga bahasa sekaligus, yakni Prancis, Jerman, dan Luxemburgish, demi memenuhi standar pendidikan di negara tersebut.
“Tiga tahun pertama rasanya seperti neraka,” ungkap Cristina dalam kisahnya, Jum’at (8/5/2026).
Ia bercerita pernah mengalami penolakan dari puluhan sekolah karena dianggap belum memenuhi kualifikasi. Demi bertahan hidup sambil mengejar penyetaraan ijazah dan sertifikasi, Cristina bekerja serabutan mulai dari pengasuh anak hingga pelayan restoran.
“Saya tidur hanya empat jam sehari. Sisanya belajar bahasa Jerman dan Prancis sambil berhemat untuk makan,” katanya.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil ketika dirinya resmi diterima menjadi pengajar di salah satu sekolah dasar negeri di Luxembourg, negara yang dikenal memiliki sistem pendidikan dengan penghargaan tinggi terhadap profesi guru.
Meski kini memperoleh penghasilan ratusan juta rupiah per bulan jika dikonversikan ke mata uang Indonesia, Cristina mengaku justru sering teringat kondisi guru di tanah air.
Ia mengenang guru honorer semasa SD yang harus mengajar dengan penghasilan minim dan pembayaran yang kerap terlambat. Cristina juga menyoroti banyak rekan kuliahnya di jurusan pendidikan yang kini harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan hidup.
“Di Luxembourg, guru dihormati setara hakim atau dokter spesialis. Pemerintah percaya masa depan negara bergantung pada kualitas pendidikan,” ujarnya.
Menurut Cristina, penghargaan terhadap profesi guru tidak hanya diwujudkan lewat slogan, tetapi juga melalui kesejahteraan yang layak. Hal itu, kata dia, menjadi alasan mengapa pemerintah Luxembourg berani memberikan gaji tinggi kepada tenaga pendidik.
Sebaliknya, kondisi guru di Indonesia masih jauh dari ideal. Cristina mengaku sedih melihat banyak guru di daerah terpencil harus menghadapi keterbatasan fasilitas dan risiko besar demi mengajar, namun tetap menerima penghasilan yang minim.
“Banyak guru di Indonesia yang bekerja dengan hati, meski hidup mereka sendiri masih penuh kekurangan,” tuturnya.
Kini, selain membantu keluarga dan membangun rumah orang tua di kampung halaman, Cristina menyimpan harapan besar agar suatu hari Indonesia dapat memberikan penghargaan yang lebih layak kepada para guru.
“Aku berharap guru di Indonesia tidak hanya disebut pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi benar-benar dimuliakan hidupnya dan dihargai perjuangannya,” katanya.(Ara)

