PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak menggelar aksi penaburan eco enzyme di sepanjang parit Jalan Alianyang hingga Jalan Pangeran Natakusuma dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 200 peserta dari unsur ASN, pelajar, komunitas, dan masyarakat ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas lingkungan, khususnya kebersihan parit yang menjadi ciri khas Kota Pontianak.
Setiap peserta membawa satu botol eco enzyme untuk dituangkan ke saluran air, sementara enam unit kendaraan pemadam kebakaran turut menyemprotkan cairan eco enzyme di sepanjang jalur kegiatan yang mencapai 2,1 kilometer.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap lingkungan sekaligus mengajak masyarakat untuk mulai mengelola sampah organik secara lebih bijak.
Menurutnya, kondisi sejumlah parit di Pontianak saat ini menghadapi tantangan akibat pencemaran sampah dan limbah rumah tangga yang memicu bau tidak sedap, mengganggu kualitas air, hingga meningkatkan potensi genangan.
“Menjaga kebersihan parit bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat. Melalui eco enzyme, kita ingin menghadirkan solusi sederhana yang bisa dimulai dari rumah,” ujarnya usai penaburan eco enzyme secara simbolis, Rabu (1/7/2026).
Edi menjelaskan, eco enzyme dihasilkan dari fermentasi limbah organik seperti sisa buah dan sayuran. Selain membantu mengurangi pencemaran air dan bau, pemanfaatannya juga menjadi salah satu bentuk pengurangan sampah dari sumbernya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Pontianak terus memperkuat berbagai program pelestarian lingkungan, mulai dari pengembangan bank sampah, edukasi pengelolaan sampah, hingga penambahan ruang terbuka hijau.
“Kita berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengatakan penggunaan eco enzyme dipilih sebagai pendekatan berbasis mikroorganisme alami untuk membantu memperbaiki kualitas air pada saluran drainase yang mulai tercemar.
Menurutnya, cairan tersebut mengandung mikroorganisme baik yang dapat membantu menekan perkembangan bakteri penyebab pencemaran sehingga kualitas air dapat meningkat secara bertahap.
“Harapan kami, kondisi parit menjadi lebih bersih, bau berkurang, kadar oksigen meningkat, dan ekosistem perairan dapat pulih kembali,” jelasnya.
Ia menyebut Pontianak menjadi daerah ketiga di Indonesia yang menerapkan penaburan eco enzyme secara massal setelah Bali dan kawasan Cisadane. Program tersebut akan dievaluasi melalui pengujian kualitas air sebelum dan sesudah penaburan.
Jika hasilnya menunjukkan dampak positif, penerapan eco enzyme akan diperluas ke seluruh enam kecamatan di Kota Pontianak sebagai bagian dari program pemulihan kualitas badan air.
Dalam pelaksanaannya, DLH juga melibatkan pelajar dari berbagai sekolah. Sebelum mengikuti kegiatan, para siswa mendapatkan pelatihan membuat eco enzyme dari limbah organik. Dari proses tersebut berhasil dihimpun sekitar 1.900 liter eco enzyme yang digunakan dalam aksi penaburan massal.
Salah seorang peserta, Yaya Ditami, siswi kelas XI SMK Negeri 1 Pontianak, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia menilai eco enzyme memiliki banyak manfaat bagi lingkungan sekaligus menjadi cara sederhana memanfaatkan sampah organik agar lebih bernilai.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan ikut menjaga kondisi parit maupun sungai agar tetap bersih dan lestari.(Ara)

