PONTIANAK – Manajemen Proyek Sekolah Rakyat Provinsi Kalimantan Barat Site Pontianak memperketat penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) guna memastikan seluruh proses pembangunan berjalan aman, produktif, dan sesuai standar keselamatan kerja.

Proyek yang dikerjakan oleh WIKA-CIPTA-WEGE KSO tersebut menerapkan berbagai prosedur pengendalian risiko, mulai dari pemeriksaan kesehatan pekerja, briefing keselamatan harian, hingga program penghargaan bagi pekerja yang disiplin menerapkan budaya K3.

Site Manager HSE Sekolah Rakyat Kalbar Site Pontianak, Melva, mengatakan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan prioritas utama dalam pelaksanaan proyek.

“Komitmen ini dilakukan untuk memastikan seluruh pekerja dapat bekerja dengan aman, sehat, dan produktif sehingga target mutu, waktu, dan biaya proyek dapat tercapai tanpa mengabaikan keselamatan kerja,” ujarnya.

Sebagai langkah preventif, seluruh pekerja diwajibkan mengikuti Safety Morning Talk (SMT) setiap pukul 07.30 WIB sebelum memulai aktivitas. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan sebelumnya, mengidentifikasi potensi bahaya, serta menyampaikan langkah mitigasi risiko di lapangan.

Selain itu, proyek juga menerapkan Fit To Work (FTW) pada pagi dan malam hari guna memastikan kondisi fisik dan mental pekerja berada dalam keadaan sehat dan layak bekerja.

Menurut Melva, pekerja yang mengalami kelelahan, sakit, atau kondisi tertentu yang berpotensi membahayakan keselamatan akan mendapatkan penanganan terlebih dahulu sebelum memasuki area proyek.

Untuk pekerja baru, manajemen mewajibkan pelaksanaan Safety Induction sebagai syarat memasuki area kerja. Melalui program tersebut, pekerja diberikan pemahaman mengenai aturan keselamatan proyek, penggunaan alat pelindung diri (APD), jalur evakuasi, titik kumpul darurat, hingga prosedur pelaporan insiden.

Pengawasan juga diperketat pada pekerjaan berisiko tinggi, khususnya di area ketinggian. Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan full body harness, lifeline, dan perlengkapan keselamatan lainnya sesuai standar K3 konstruksi yang berlaku.

Selain fokus pada keselamatan, manajemen proyek juga memperhatikan kondisi fisik pekerja melalui program extra fooding berupa tambahan makanan dan minuman bergizi untuk menjaga stamina selama bekerja.

Tak hanya itu, manajemen turut meluncurkan program Reward HSE (Health, Safety and Environment) sebagai bentuk apresiasi kepada mandor dan staf yang dinilai konsisten menerapkan budaya keselamatan kerja di lingkungan proyek.

Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan disiplin penggunaan APD, pelaksanaan Safety Morning Talk, Tool Box Meeting (TBM), kepatuhan terhadap izin kerja, serta penerapan standar SMKK secara menyeluruh.

“Dengan Reward HSE, kami ingin membangun budaya kerja yang menempatkan keselamatan sebagai tanggung jawab bersama. Keselamatan bukan hanya kewajiban, tetapi budaya yang harus diterapkan setiap hari,” tegas Melva.

Melalui berbagai program tersebut, Proyek Sekolah Rakyat Kalimantan Barat terus mengedepankan prinsip “Safety First” dengan target menciptakan lingkungan kerja yang aman, berkualitas, dan bebas kecelakaan hingga proyek selesai.