PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Erna Yulianti, memberikan apresiasi kepada tenaga kesehatan (nakes) yang membantu proses persalinan seorang ibu hamil di atas perahu yang videonya sempat beredar di media sosial.
Erna menjelaskan, kejadian tersebut memang benar terjadi. Namun, peristiwa itu berlangsung pada tahun 2025 di Desa Pengaras, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. Saat itu, akses jalan darat menuju wilayah tersebut belum tersedia sehingga tenaga kesehatan harus menggunakan transportasi air untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dari video tersebut memang benar kejadiannya. Itu terjadi pada tahun 2025 di Desa Pengaras, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. Pada saat itu memang akses jalan darat belum ada,” ujar Erna saat dikonfirmasi, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut kini telah mengalami perubahan. Pada 2026, akses jalan darat dari Desa Pengaras menuju Kecamatan Hulu Sungai hingga ke wilayah Kabupaten Ketapang sudah tersedia.
Keberadaan akses tersebut dinilai sangat membantu masyarakat, khususnya dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
Dengan tersedianya akses darat, sistem rujukan pelayanan kesehatan juga menjadi lebih mudah, mulai dari pelayanan di Pustu menuju Polindes, kemudian ke Puskesmas, hingga rujukan ke rumah sakit.
Erna menegaskan, pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Kesehatan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada nakes yang telah memberikan pertolongan persalinan dalam kondisi keterbatasan akses tersebut.
Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab nakes dalam menyelamatkan dua kehidupan sekaligus, yakni ibu dan bayi.
“Ini merupakan bentuk dedikasi yang sangat mulia yang diberikan oleh tenaga kesehatan, khususnya mereka yang bertugas di daerah terpencil,” katanya.
Erna mengatakan, kondisi geografis Kalimantan Barat yang terdiri dari wilayah perairan, kawasan perbatasan hingga daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan Kementerian Kesehatan untuk melengkapi sarana dan prasarana kesehatan, khususnya di daerah terpencil, perbatasan, kepulauan dan wilayah dengan akses sulit.
“Kami mendorong kabupaten dan kota untuk menyampaikan apa saja sarana dan prasarana yang dibutuhkan, khususnya di daerah DTPK,” jelasnya.
Ia menilai, dedikasi para nakes yang bertugas di daerah DTPK merupakan bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Saat ini, Kalimantan Barat memiliki 252 puskesmas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 248 puskesmas telah dilengkapi alat ultrasonografi (USG) yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan.
Erna menjelaskan, keberadaan USG tersebut ditujukan untuk membantu deteksi dini kondisi kehamilan sehingga potensi penyulit dapat diketahui sejak pemeriksaan kehamilan hingga proses persalinan.
Penggunaan alat USG, lanjutnya, harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi, khususnya dokter. Hingga saat ini, sekitar 90 persen dokter di puskesmas telah mendapatkan pelatihan penggunaan USG.
Erna berharap dedikasi dalam memberikan pelayanan kesehatan tidak hanya ditunjukkan oleh nakes yang bertugas di daerah DTPK, tetapi juga oleh seluruh tenaga kesehatan, termasuk yang berada di wilayah perkotaan.
Ia juga menyampaikan pesan kepada para nakes yang bertugas di wilayah perbatasan, perairan dan daerah terpencil agar terus memberikan pelayanan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
“Semua yang kalian lakukan adalah bentuk tanggung jawab dan dedikasi kepada masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kalian bekerja sungguh-sungguh, bekerja dengan hati dan bekerja dengan ikhlas,” pungkasnya.
Erna berharap seluruh nakes yang bertugas di daerah perbatasan, perairan maupun DTPK senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan sehingga dapat terus menjadi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan terbaik dan menjadi teladan bagi masyarakat.(Ara)

