PONTIANAK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantantan Barat memprediksikan El Niño masih akan berlanjut hingga 2027.
“Pada Mei, Juni da Juli, index El Niño mencapai +1.59 yang menunjukkan El Niño kuat. BMKG memprediksi El Niño pada 2026 akan mencapai level sangat kuat. El Niño sangat kuat ini diprediksi hingga Oktober 2026. Namun potensi El Niño masih berlanjut hingga 2027,” ungkap Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Dwikora Pontianak, Syarifah Nadya Soraya kepada TKP Pontianak pada Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, wilayah Kalbar bagian Selatan (Ketapang dan Kayong Utara) akan alami kekeringan yang lebih lama.
“Kalbar memang termasuk wilayah yang sudah diprediksi memasuki musim kemarau sejak Juni, terutama Kalbar bagian selatan. BMKG memperkirakan kemarau 2026 secara umum lebih kering dan lebih panjang dari normalnya khususnya untuk kalbar bagian Selatan,” tambahnya.
Syarifah menambahkan, saat ini masyarakat sering kali salah paham mengartikan El Niño. Sebagian masayarakat menganggap El Niño itu kering ekstrem, tapi sebenarnya El Niño itu keadaan di mana hari tanpa curah hujannya lebih lama dari biasanya.
“Kadang terjadi miskonsepsi pada masyarakat yang mengartikan saat terjadi El Niño kuat, Kalbar pasti kering ekstrem setiap hari. Tapi sebenarnya, El Niño kuat itu curah hujan berkurang dan hari tanpa hujan lebih panjang,” jelasnya.
Sementara itu, ahli forensik kebakaran hutan dari IPB University, Profesor Bambang Hero Saharjo berkata, El Nino di Indonesia tahun ini spesial, bahkan mendapat julukan El Nino Godzilla.
Merujuk beberapa badan riset internasional, dia berkata, El Nino Godzilla tahun ini bahkan disebut paling kuat dalam periode 150 tahun terakhir.
Bambang bilang, tahun lalu tanpa El Nino, karhutla telah membakar 359.000 hektare dan bahkan asapnya dilaporkan satelit Sentinel telah sampai ke Malaysia.
“Dan beberapa melaporkan kemungkinan El Nino tahun ini berpotensi setara dengan kebakaran 1997/98, yang kebakarannya sampai 10 sampai dengan 11 juta hektare,” jelas Bambang.
rangkaian karhutla yang terjadi saat ini belum mencapai titik tertinggi.
Pasalnya, puncak musim kemarau diprediksi hingga awal tahun 2027. “Ini belum selesai, baru babak awal dari karhutla,” kata Bambang.

