SANGGAU – Sejak dilaunching 17 Februari 2025, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sanggau ternyata tidak memberikan dampak terhadap penurunan angka stunting. Padahal, Presiden Prabowo Subianto menargetkan progm MBG mampu menurunkan angka stunting di daerah penerima manfaat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau, angka stunting 2024 sebesar 21,48 persen. Namun ditahun 2025 turun menjadi 20,50 persen. Namun, ditriwulan I tahun 2026 ditengah berjalannya program MBG yang digadang-gadang mampu menurunkan stunting ternyata angka tersebut justeru mengalami kenaikan 1,32 persen menjadi 21,82 persen.
“Ditahun 2025 itu kita mendapat prestasi dalam hal penanganan stunting dengan posisi kedua se Kalimantan Barat setelah Kota Pontianak. Kalau kita lihatnya trendnya di tahun 2026 ini ada peningkatan kasus, ini anomali menurut saya,” kata Wakil Bupati (Wabup) Sanggau Susana Herpena yang juga Ketua Satgas Percepatan Program MBG di Sanggau ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (8/6/2026).
Melihat data stunting yang menurutnya anomali dengan program MBG, dia berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG maupun penanganan stunting.
“Kebetulan saya juga Ketua penanganan stunting, nanti saya koordinasikan dan saya panggil OPD terkait untuk membahas persoalan stunting ini,” ujarnya.
Ia mengaku cukup bingung dengan anomali yang terjadi antara program MBG dengan penurunan stunting.
“Harusnya program MBG ini mampu menurunkan stunting, tapi faktanya justeru angka stunting malah naik, nanti kita evaluasi lagi,” ungkapnya..
Wabup Susana menduga, program MBG yang salahsatu tujuannya menurunkan stunting tidak tepat sasaran. Artinya, daerah-daerah yang angka stuntingnya tinggi harusnya menjadi prioritas program MBG.
“Ini mungkin persoalan yang kita hadapi. Kami di daerah hanya mendukung kebijakan Pemerintah Pusat. Mestinya program MBG ini menyasar daerah yang angka stuntingnya tinggi, bukan di perkotaan dulu yang dibangun dapur-dapur MBG,” bebernya. (dra).

