PONTIANAK – Irfan Zaki Azizi, santri asal Kayong Utara yang meninggal dunia pada pertengahan Maret 2026, meninggalkan jejak pemikiran melalui sebuah buku yang ditulisnya berjudul “Islam is My Value”. Karya tersebut kini menjadi peninggalan berharga yang memuat refleksi perjalanan spiritual seorang pemuda muslim dalam mencari jati diri.

Ayah korban, Achmad Edi Santoso, mengungkapkan bahwa buku tersebut secara umum menggambarkan perjuangan seorang anak muda untuk menjadi muslim yang sejati, tidak hanya secara identitas, tetapi juga dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Menurutnya, tulisan Zaki sarat pesan moral yang relevan bagi generasi muda.
Dalam bagian akhir buku, Zaki menekankan pentingnya menjaga etika, terutama dalam bercanda, serta tidak meremehkan nilai-nilai agama. Ia juga mengingatkan agar setiap individu terus memperdalam pemahaman keagamaan dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan yang diambil.

“Pesan terakhir yang ia tulis menjadi pengingat bagi kita semua agar kejadian serupa tidak terulang. Itu harapan yang sangat dalam dari seorang anak muda,” ujar Achmad Edi Santoso, Minggu (29/3/2026).

Namun di balik karya yang menginspirasi tersebut, keluarga masih menyimpan duka sekaligus tanda tanya atas kepergian Zaki. Ia dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Antonius pada Jumat, 13 Maret 2026.

Sang ayah mengaku menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada kondisi fisik anaknya, khususnya di bagian wajah. Hal tersebut membuat keluarga meragukan dugaan awal yang menyebutkan kematian disebabkan oleh alergi obat.

“Dari apa yang kami lihat, kecil kemungkinan penyebabnya hanya karena alergi. Ada hal-hal yang menurut kami perlu ditelusuri lebih lanjut,” tegasnya.

Atas dasar itu, keluarga kini menempuh jalur hukum guna mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Irfan Zaki Azizi. Mereka berharap upaya tersebut dapat menghadirkan keadilan sekaligus memberikan kejelasan atas peristiwa yang terjadi.

Di tengah proses tersebut, buku “Islam is My Value” menjadi simbol pemikiran dan harapan Zaki yang terus hidup, sekaligus pengingat akan pentingnya nilai, etika, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.(Ara)