PONTIANAK – Medical Centre Kuching, Malaysia, menggelar kegiatan Health Talk bersama masyarakat dan pasien asal Pontianak. Kegiatan tersebut menghadirkan dua dokter spesialis, yakni Dr. Nicholas Ngeh, spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn), serta Dr. Yu Kong Leon, spesialis onkologi Borneo Medical Centre Kuching.
Kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus silaturahmi antara Borneo Medical Centre dengan masyarakat. Selain membahas kesehatan, peserta juga mendapatkan informasi mengenai perkembangan layanan rumah sakit dan pengobatan kanker terkini.
Perwakilan Infocentre Borneo Medical Centre, Deki Junaedi, mengatakan kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memberikan pemahaman lebih luas kepada masyarakat mengenai berbagai pilihan layanan medis.
“Tujuan kami sebenarnya ramah-tamah dengan pasien-pasien kami sekaligus memberikan informasi terbaru, baik mengenai pengembangan rumah sakit maupun pengembangan pengobatan yang ada,” ujar Deki di Harris Hotel Pontianak, Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, masyarakat yang ingin mendapatkan second opinion atau opini medis kedua juga dapat membawa hasil pemeriksaan sebelumnya untuk dikonsultasikan kepada dokter di Borneo Medical Centre.
“Tidak ada syarat khusus. Kalau pasien ingin second opinion, sebaiknya membawa data-data pemeriksaan sebelumnya, seperti hasil laboratorium atau pemeriksaan lainnya. Nanti bisa kami jelaskan dan konsultasikan,” jelasnya.
Dalam Health Talk kali ini, perhatian khusus diberikan pada bidang ginekologi dan onkologi, terutama mengenai kanker serviks. Pemilihan topik tersebut dinilai penting karena masih banyak masyarakat yang belum memahami langkah pencegahan maupun tanda-tanda awal kanker serviks.
Dr. Nicholas Ngeh mengatakan, banyak pasien datang ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut, padahal sejumlah langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini.
“Banyak masalah yang sebenarnya boleh diatasi dengan vaksin dan program pemeriksaan, tetapi banyak orang tidak tahu. Setelah tahu pun kadang tidak dilakukan karena tidak ada waktu,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pencegahan dan pemeriksaan sejak dini jauh lebih baik dibandingkan menunggu penyakit berkembang hingga stadium lanjut.
Menurut Nicholas, kanker serviks yang telah memasuki stadium tiga atau empat dapat membutuhkan penanganan yang lebih kompleks, termasuk radioterapi dan pengobatan lainnya. Kondisi tersebut juga dapat memberikan dampak terhadap kualitas hidup pasien.
Karena itu, ia mengimbau perempuan untuk melakukan vaksinasi HPV dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Nasihat saya, vaksin awal-awal, sebelum menikah atau sebelum aktivitas seksual. Setelah itu tetap lakukan pemeriksaan secara berkala,” katanya.
Nicholas juga menyoroti masih ditemukannya pasien dari Indonesia yang datang dalam kondisi kanker serviks stadium lanjut. Ia mengatakan, keterlambatan pemeriksaan sering terjadi karena pasien menganggap gejala awal bukan sesuatu yang serius.
Salah satu gejala yang perlu mendapatkan perhatian adalah perdarahan yang tidak normal, terutama setelah menopause.
“Kalau perdarahan sudah berlangsung dua atau tiga bulan, jangan tunggu lagi. Harus diperiksa. Banyak kasus setelah dilakukan biopsi ternyata kanker dan ketika diperiksa lebih lanjut sudah menyebar,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Yu Kong Leon menjelaskan bahwa perkembangan pengobatan kanker saat ini semakin beragam. Selain kemoterapi dan radioterapi, pasien juga dapat memperoleh terapi target, imunoterapi hingga antibody-drug conjugate(ADC), tergantung jenis kanker, kondisi pasien dan stadium penyakit.
“Untuk onkologi, pengobatan kita dari segi radiasi, kemoterapi, imunoterapi dan terapi target. Setiap kanker dan setiap stadium memiliki pengobatan yang berbeda,” jelas Dr. Yu.
Ia menambahkan, penentuan terapi tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan. Dokter perlu melihat keseluruhan kondisi pasien, termasuk hasil biopsi, pemindaian dan pemeriksaan lainnya sebelum menentukan pilihan terapi.
“Pasien harus kita wawancara dan kita lihat keseluruhan kondisinya. Setelah itu baru kita jelaskan pilihan pengobatan satu per satu,” katanya.
Menurut Dr. Yu, teknologi pengobatan kanker juga terus berkembang, terutama untuk pasien dengan penyakit stadium lanjut. Terapi target, imunoterapi dan ADC menjadi sejumlah pilihan pengobatan yang kini semakin berkembang.
Di bidang radioterapi, kemajuan teknologi memungkinkan pemberian radiasi yang lebih presisi ke area kanker sehingga jaringan sehat di sekitar tumor dapat lebih terlindungi.
Borneo Medical Centre berharap kegiatan Health Talk tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat Pontianak mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, melakukan deteksi dini serta tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan gejala yang tidak normal.M
Masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai layanan Borneo Medical Centre dapat menghubungi pusat informasi mereka di Pontianak maupun memperoleh informasi melalui kanal resmi Borneo Medical Centre.(Ara)

