PONTIANAK – Pembangunan pedestrian yang menghubungkan kawasan Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya didorong untuk terus dilanjutkan.
Anggota Komisi V DPR RI, Lasarus, menilai konektivitas kedua wilayah perlu diperkuat, termasuk untuk mendukung aktivitas masyarakat dan pelaksanaan Car Free Day (CFD).
Lasarus mengatakan, pembangunan pedestrian tersebut diharapkan dapat melanjutkan jalur yang telah dibangun di Kota Pontianak hingga kawasan Bundaran Apuraya, termasuk akses menuju kawasan bandara.
Menurutnya, perluasan jalur tersebut juga dapat menjadi solusi agar pelaksanaan CFD tidak hanya terpusat di wilayah Kota Pontianak yang selama ini kerap mengalami kepadatan saat hari libur.
“Kalau Car Free Day hanya mengandalkan kota saja, sangat padat sekali kalau hari libur. Kendaraan juga harus tetap punya jalur. Ke depan mungkin kita bikin dua jalur seperti ini, jalur sebelah tetap hidup, jalur sebelah kita buat Car Free Day,” ujar Lasarus saat peninjauan di Bundaran Gaforaya, Senin(24/8/2026).
Dengan konsep tersebut, aktivitas masyarakat tetap dapat berlangsung tanpa mengganggu arus lalu lintas. Masyarakat juga memiliki ruang yang lebih luas untuk menikmati CFD dengan durasi dan jangkauan yang lebih panjang.
Lasarus menilai perluasan kawasan CFD menjadi penting karena masyarakat Kubu Raya juga banyak beraktivitas di Kota Pontianak. Kondisi itu membuat kawasan CFD di pusat kota berpotensi semakin padat.
“Kalau masyarakat Kubu Raya turun semua ikut ke Car Free Day di kota, itu sudah pasti ramai, tidak bisa bergerak orang. Karena jaraknya pendek, makanya diperpanjang, nambah lagi nanti kurang lebih 9 kilometer,” katanya.
Ia juga menilai secara geografis dan aktivitas masyarakat, Kota Pontianak dan Kubu Raya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Sejumlah fasilitas penting yang selama ini dianggap sebagai bagian dari Pontianak justru berada di wilayah Kubu Raya, termasuk pusat perbelanjaan dan Bandara Internasional Supadio.
Karena itu, menurut Lasarus, pembangunan pedestrian dan peningkatan konektivitas jalan menuju kawasan bandara menjadi kebutuhan yang perlu direncanakan secara bertahap.
Namun, pembangunan tersebut membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Berdasarkan perhitungan Balai Jalan Nasional, kebutuhan anggaran untuk pengembangan jaringan jalan dan penambahan lajur diperkirakan mencapai sekitar Rp700 miliar.
“Ini tidak mudah. Kalau tidak bisa setahun, dua tahun, tidak bisa dua tahun, tiga tahun kita akan kerjakan,” tegas Lasarus.
Ia berharap rencana tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah secara bertahap.
Dengan dukungan anggaran dan perencanaan yang matang, pembangunan konektivitas Pontianak–Kubu Raya diharapkan tidak hanya memperluas ruang publik, tetapi juga meningkatkan kelancaran lalu lintas dan mendukung mobilitas masyarakat menuju kawasan bandara.(Ara)

